Sabtu, 19 Mei 2012

KETENANGAN JIWA

KETENANGAN JIWA

1.      Pengertian Jiwa
Secara bahasa jiwa berasal dari kata psyche yang berarti jiwa, nyawa atau alat untuk berfikir. [1] Sedang dalam bahasa Arab sering disebut dengan “an nafs”. [2] Imam Ghazali mengatakan bahwa jiwa adalah manusia-manusia dengan hakikat kejiwaannya. Itulah pribadi dan zat kejiwaannya. [3] Sedangkan menurut para filosof pengikut plotinus (para filosof Yunani), sebagaimana yang dikutip oleh Abbas Mahmud Al Aqqad dalam Manusia Diungkap Dalam Al Qur’an, bahwa jiwa menurut mereka adalah sinonim dengan gerak hidup / kekuatan yang membuat anggota-anggota badan menjadi hidup yakni kekuatan yang berlainan fisik material, dapat tumbuh beranak, dan berkembangbiak tingkat kemauannya lebih besar dari pada benda tanpa nyawa dan lebih kecil daripada roh, jiwa tidak dapat dipindah dari tempat ia berada. [4]
Kemudian dilihat dari kacamata psikologi, menurut Wasty Soemanto, jiwa adalah kekuatan dalam diri yang menjadi penggerak bagi jasad dan tingkah laku manusia, jiwa menumbuhkan sikap dan sifat yang mendorong tingkah laku.  Demikian dekatnya fungsi jiwa dengan tingkah laku, maka berfungsinya jiwa dapat diamati dari tingkah laku yang nampak. [5]
Dari sejumlah pemaparan di atas dapat diambil pemahaman bahwa jiwa adalah merupakan unsur kehidupan, daya rohaniah yang abstrak yang berfungsi sebagai penggerak manusia dan menjadi simbol kesempurnaan  manusia.  Karena manusia yang tidak memiliki jiwa tidak dapat dikatakan manusia yang sempurna.
 Jiwa menumbuhkan sikap dan sifat yang mendorong pada tingkah laku yang tampak. Karena cara-cara kerja jiwa hanya dapat di amati  melalui  tingkah laku  yang nyata.   Adapun pengertian jiwa di sini meliputi  seluruh aspek  rohani  yang di miliki  oleh  manusia, antara lain ; hati, akal, pikiran dan perasaan.

2.      Pengertian Ketenangan Jiwa
Kata ketenangan jiwa terdiri dari kata ketenangan dan jiwa. Sedangkan kata ketenangan itu sendiri berasal dari kata tenang yang mendapat sufiks ke-an. Tenang berarti diam tak berubah-ubah (diam tak bergerak-gerak); tidak gelisah, tidak rusuh, tidak kacau, tidak ribut, aman dan tenteram (tentang perasaan hati, keadaan dan sebagainya). Tenang, ketenteraman hati, batin, pikiran. [6] 
Sedangkan jiwa adalah seluruh kehidupan batin manusia yang menjadi unsur kehidupan, daya rohaniah yang abstrak yang berfungsi sebagai penggerak manusia dan menjadi simbol kesempurnaan manusia (yang terjadi dari hati, perasaan, pikiran dan angan-angan). Kata ketenangan jiwa juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri sendiri, dengan orang lain, masyarakat dan lingkungan serta dengan lingkungan di mana ia hidup. Sehingga orang dapat menguasai faktor dalam hidupnya dan menghindarkan tekanan-tekanan perasaan yang membawa kepada frustasi. [7]
Jadi ketenangan jiwa atau kesehatan mental adalah kesehatan jiwa, kesejahteraan jiwa, atau kesehatan mental. Karena orang yang jiwanya tenang, tenteram berarti orang tersebut mengalami keseimbangan di dalam fungsi-fungsi jiwanya atau orang yang tidak mengalami gangguan kejiwaan sedikitpun sehingga dapat berfikir positif, bijak dalam menyikapi masalah, mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi serta mampu merasakan kebahagiaan hidup. 
Hal tersebut sesuai dengan pandangan Zakiah Daradjat bahwa kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara faktor jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. [8]
Kartini Kartono mengatakan, bahwa mental hygiene memiliki tema sentral yaitu bagaimana cara orang memecahkan segenap keruwetan batin manusia yang ditimbulkan oleh macam-macam kesulitan hidup, serta berusaha mendapatkan kebersihan jiwa dalam pengertian tidak terganggu oleh macam-macam ketegangan, ketakutan serta konflik. [9] 
Dari beberapa pendapat di atas dapat dipahami bahwa orang yang sehat mentalnya atau tenang jiwanya adalah orang yang memiliki keseimbangan dan keharmonisan di dalam fungsi-fungsi jiwanya, memiliki kepribadian yang terintegrasi dengan baik, dapat menerima sekaligus menghadapi realita yang ada, mampu memecahkan segala kesulitan hidup dengan kepercayaan diri dan keberanian serta dapat menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan lingkungannya.
Jadi orang yang tenang jiwanya adalah orang yang fungsi-fungsi jiwanya dapat berjalan secara harmonis dan serasi sehingga mumunculkan kepribadian yang terintegrasi dengan baik, sebab kepribadian yang terintegrasi dengan baik dapat dengan mudah memulihkan macam-macam ketegangan dan konflik-konflik batin secara spontan dan otomatis, dan mengatur pemecahannya menurut prioritas dan herarkinya, sehingga dengan mudah akan mendapat kan keseimbangan batin, dan jiwanya ada dalam keadaan tenang seimbang.

3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketenangan Jiwa
Semua orang ingin menjalani kehidupannya dengan penuh kebahagiaan dan ketenangan lahir dan batin. Adapun jiwa yang tenang,  sebagaimana yang diungkapkan dalam al-Qur’an surat AL-Fajr ayat 27-28:
يآيُّهَاالنَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ.لا ارْجِعِىْ اِلىَ رَبِّكَ رَاضِيَّةً مَّرْضِيَّةً.ج {الفجر: 27-28}
Hai jiwa yang tenang kembalilah Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. [10] (QS. al-Fajr: 27-28)
  
Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa manusia yang memiliki jiwa yang tenang akan mendapatkan kebahagiaan di sisi Allah SWT., dan akan  dimasukkan  ke dalam  surga-Nya,  dengan  demikian  segala  yang  dilakukannya hanya semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT., serta  apa yang dilakukannya dipikir dahulu, apakah sudah sesuai dengan perintah Allah SWT atau tidak, sehingga semua perbuatannya akan bermanfaat karena disandarkan dengan niat untuk mencari ridha Allah SWT semata.  Ia lebih menginginkan hal-hal yang bersifat rohaniah, yang bisa mengisi jiwanya dan tidak cenderung mengejar kelezatan duniawi yang bersifat jasmaniah. Orang semacam ini jika dikaruniai kekayaan, tidak mengambil selain apa yang menjadi haknya sendiri, dan apabila ditimpakan kepadanya musibah bersabar serta bertawakkal kepada Allah SWT. 
Menurut imam Ghazali jiwa yang tenang ialah jiwa yang diwarnai dengan sifat-sifat yang menyebabkan selamat dan bahagia. Di antaranya adalah sifat-sifat syukur, sabar, taklut siksa, cinta Tuhan, rela akan hukum Tuhan, mengharapkan pahala dan memperhitungkan amal perbuatan dirinya selama hidup, dan lain-lain. Sifat-sifat yang menyebabkan selamat. [11]
Menurut Zakiah Daradjat dan Kartini Kartono ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketenangan jiwa di mana orang yang ingin mencapai ketenangan jiwa harus memenuhi beberapa faktor tersebut antara lain:
a.       Faktor agama
Agama adalah kebutuhan jiwa (psikis) manusia, yang akan mengatur dan mengendalikan sikap, kelakuan dan cara menghadapi tiap-tiap masalah. [12]
Demikian juga dalam agama ada larngan yang harus dijauhi, karena di dalam nya terdapat dampak negatif dari kehidupan manusia. Orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT secara benar, di dalam hatinya tidak akan diliputi rasa takut dan gelisah. Ia merasa yakin bahwa keimanan dan ketaqwaannya itu aklan membawa kelegaan dan ketenangan batinnya. Firman Allah SWT:
الَّذِيْنَ امَنُوْا وَعَمِلُوا الصّلِحتِ طُوْبى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ. {الرّعد: 29}
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. [13] (QS. ar-Ra’d: 29)
Pelaksanaan agama (ibadah) dalam kehidupan sehari-hari dapat membentengi orang dari rasa gelisah dan takut. Diantara dari berbagai macam ibadah yanbg ada yaitu shalat secara psikologis semakin banyak shalat dan menggantungkan harapan kepada Allah SWT maka akan tenteramlah hati, karena dalam shalat itu sendiri mengandung psiko-religius (kekuatan rohaniah) yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme sehingga memiliki semangat untuk masa depan. Daripada itu tujuan utama dari shalat adalah ingin beraudiensi, mendekatkan diri dengan Allah supaya terciptalah kebahagiaan dan ketenangan hidupnya.
b.      Terpenuhinya Kebutuhan Manusia
Ketenangan dalam hati dapat dirasakan apabila kebutuhan-kebutuhan manusia baik yang bersifat fisik maupun psikis terpenuhi. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi akan mengakibatkan kegelisahan dalam jiwa yang akan berdampak pada terganggunya ketenangan hidup.
Menurut Katini Kartono kebutuhan-kebutuhan yang harus terpenuhi oleh manusia adalah:
1)      Terpenuhinya kebutuhan pokok, hal ini karena setiap manusia pasti memiliki dorongan-dorongan akan kebutuhan pokok. Dorongan-dorongan akan kebutuhan pokok tersebut menuntut pemenuhan, sehingga jiwa mwnjadi tenangdan akan menurunkan ketegangan-ketegangan jiwa jika kebutuhan tersebut terpenuhi.
2)      Tercapainya kepuasan , setiap orang pasti menginginkan kepuasan, baik yang berupa jasmaniah maupun yang bersifat psikis, seperti kenyang, aman terlindungi, ingin puas dalam hubungan seksnya, ingin mendapat simpati dan diakui harkatnya. Pendeknya ingin puas di segala bidang.
3)      Posisi status sosial, setiap individu selalu berusaha mencari posisi sosial dalam lingkungannya. Tiap manusia membutuhkan cinta kasih dan simpati. Sebab cinta kasih dan simpati menumbuhkan rasa diri aman, berani optimis, percaya diri. [14]
Menurut Zakiah Daradjat ada enam kebutuhan jiwa di mana jika tidak terpenuhi akan mengalami ketegangan jiwa. Kebutuhan jiwa tersebut adalah:
1)      Rasa kasih sayang
2)      Rasa aman
3)      Rasa harga diri
4)      Rasa bebas
5)      Rasa sukses
6)      Rasa ingin tahu. [15]
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1)      Rasa kasih sayang
Rasa kasih sayang merupakan kebutuhan jiwa yang penting bagi manusia oleh karenanya apabila rasa kasih sayang itu tidak didapatnya dari orang-orang disekelilingnya maka akan berdampak pada keguncangan jiwanya. Tetapi bagi orang yang percaya kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang maka kehilangan kasih sayang dari manusia tidak menjadikan jiwa gersang.
2)      Rasa Aman
Rasa aman juga kebutuhan jiwa yang tidak kalah pentingnya. Orang yang terancam, baik jiwanya, hartanya, kedudukannya ia akan gelisah yang berujung pada stres. Apabila ia dekat dengan Allah SWT tentu rasa aman akan selalu melindungi dirinya.
3)      Rasa harga diri
Rasa harga diri juga merupakan kebutuhan jiwa manusia, yang jika tidak terpenuhi akan berakibat penderitan. Banyak orang merasa diremehkan, dilecehkan dan tidak dihargai dalam masyarakat terutama dalam hal harta, pangkat keturunan, dan lain sebagainya itu tentu perlu dipenuhi. Namun sebenarnya hakekat itu terletak pada iman dan amal soleh seseorang
4)      Rasa bebas
Rasa ingin bebas termasuk kebutuhan jiwa yang pokok pula. Setiap orang ingin mengungkapkan perasaannya dengan cara yang dirasa menyenangkan bagi dirinya. Namun semua itu tentunya ada batas dan aturan yang harus diikutinya agar orang lain tidak terganggu haknya. Kebebasan yang sungguh-sungguh hany terdapat dalam hubungan kita dengan Allah SWT
5)      Rasa sukses
Rasa sukses yang merupakan salah satu kebutuhan jiwa. Kegagalan akan membawa kekecewaan bahkan menghilangkan kepercayaan seseorang kepada dirinya. Islam mengajarkan agar orang tidak putus asa. Tidak tercapainya suatu keinginan belum tentu berarti tidak baik. Bahkan kegagalan itu akan lebih baik kalau manusia mengetahui sebab serta dapat mengambil hikmah dari kegagalan itu.
6)      Rasa ingin tahu
Rasa ingin tahu juga termasuk kebutuhan jiwa yang pokok yang jika terpenuhi akan berdampak pada tingkah laku. Orang akan merasa sengsara apabila tidak mendapatkan informasi atas ilmu yang dicarinya. Namun tidak semua ilmu itu dapat diketahuinya karena keterbatasan yang ada pada dirinya.


________________________________________
di 3:25 AM  Label: jiwa, ketenangan jiwa, Tasawuf
Link ke posting ini
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
January 26, 2010
T A K A B U R
Sifat kekaguman dan membangga-banggakan diri dapat menimbulkan kesombongan dan keangkuhan terhadap orang lain.
Sifat ini adalah salah satu penyakit hati yang sangat mencelakakan dan sulit dihindari. Dalam al-Qur’an sudah tertera larangan dan ancaman serta bahaya yang akan ditimbulkan dari sifat takabur ini.
Jika seseorang sudah melekat pada sifat ini, maka segeralah mungkin untuk mengobatinya dan menghindarinya, karena sifat ini sangat merugikan diri sendiri maupun orang lain serta merugikan di dunia dan di akhirat.
1. Pengertian Takabur
Takabur yang biasa diartikan dengan “kesombongan”, berarti sifat dan sikap merendahkan orang lain dan bisa menolak al-haqq (kebenaran).
Takabur juga berupa rasa kekaguman terhadap diri, sikap suka membesar-besarkan dan menonjolkan diri. Takabur ini sendiri dicela oleh al-Qur’an:
wur öÏiè|Áè? š‚£‰s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä•ôJs? ’Îû ÇÚö‘F{$# $•mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9‘qã‚sù ÇÊÑÈ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman: 18)
Kekaguman terhadap diri bisa berakibat timbulnya sikap sombong dan angkuh terhadap orang lain, dan merendahkan serta meremehkan mereka dalam pergaulan. Dalam al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang mencela ketakaburan orang-orang musyrik dan munafik serta keengganan mereka untuk menerima kebenaran, karena rasa angkuh yang mereka miliki.
2. Hakikat Takabur
Sifat sombong dapat dikatakan perangai di dalam jiwa yang menunjukkan kepuasan, kesenangan dan kecenderungan kepada tingkatan (martabat) di atas orang lain yang dibohongi. Jadi, selain menyangkut orang pertama, (yang menyombongkan diri), sifat ini juga melibatkan orang kedua (yang dibohongi). Disinilah letak perbedaannya dengan sifat ujub yang tidak memerlukan orang lain sebagai objek. Bahkan, andaikata di dunia ini tidak ada orang, kecuali orang satu saja, kita dapat membayangkan bahwa ia sangat mungkin bersifat ujub. Tetapi, tidak demikian dengan sifat sombong. Kita tidak mungkin membayangkan terjadinya kesombongan tanpa keberadaan orang lain. Jadi, hakikat kesombongan itu baru terwujud bila seseorang mendapat tiga keyakinan di dalam dirinya, yaitu:
a. Ia melihat dirinya memiliki martabat
b. Ia melihat pada diri orang lain juga memiliki martabat
c. Bila ia menganggap martabatnya lebih tinggi dari pada orang lain.
Apabila tiga keyakinan di atas terdapat pada diri seseorang, berarti di dalam dirinya, telah tertanam sifat sombong. Hatinya akan menjadi takabur. Karena hal itulah, dihatinya timbul rasa gengsi, rasa berwibawa, juga kesenangan dan kecenderungan kepada yang diyakininya sebagai sesuatu yang besar. Kewibawaan, perasaan besar, kecenderungan kepada hal yang diyakini itulah perangai sifat sombong.
3. Sebab-sebab dan Macam-macam Takabur
Sebab-sebab yang menjadikan seseorang berlaku sombong (takabur) adalah merasa adanya kelebihan pada dirinya. Seperti ilmu pengetahuan, amal dan ibadah, keturunan orang terhormat, harta kekayaan, kekuatan fisik, kedudukan, kecantikan, ketampanan dan sebagainya.
Dalam realitasnya, takabur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Takabur kepada Allah, seperti Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Takabur ini yang terjelek
b. Takabur kepada Rasul-Nya, seperti orang-orang Quraisy.
c. Takabur kepada sesamanya.
4. Hal-hal yang Membangkitkan Takabur
Ada empat hal yang dapat membangkitkan sifat takabur, diantaranya:
a. Sifat ujub
Sifat ini mewariskan keangkuhan di dalam diri yang setiap saat bisa muncul ke permukaan berupa kesombongan lahir dalam bentuk tindakan dan perilaku.
b. Sifat dendam (hiqd)
Terkadang yang menyebabkan kesombongan itu bukanlah sifat ujub, misalnya: orang yang menyombongkan dirinya atas orang yang menganggap dirinya sederajat dengannya atau malah melebihinya. Sering pula terjadi seseorang marah-marah karena persoalan lama yang membekaskan dendam di hatinya.
c. Sifat hasad (dengki)
Sifat ini melahirkan kebencian terhadap orang yang didengkinya meskipun penyebab yang menimbulkan marah dan dendamnya bukan berasal dari orang itu. Sifat hasad ini yang bercokol di dalam diri mendorong untuk senantiasa bersikap angkuh terhadap orang lain.
d. Sifat riya’
Sifat ini biasanya dapat menarik seseorang berperilaku sombong, sehingga terkadang terjadi perdebatan dengan orang lain. Sifat sombong yang dibangkitkan oleh riya’ ini hanya muncul berada di hadapan orang banyak.
5. Cara Mengatasi dan Melenyapkan Takabur
Takabur termasuk di antara sifat-sifat yang sangat mencelakakan dan sulit untuk dihindari. Hukum pemberantasannya adalah fardhu ‘ain bagi setiap individu.
Ada dua cara untuk memberantas sifat ini, yaitu:
a. Dengan mencabut batang pohonnya sampai ke akarnya yang menancap di hati.
Maksudnya: usaha ini tidak mungkin berhasil dengan sempurna kecuali dengan mengintensifkan ketakwaan untuk melenyapkan komponen dasarnya, dengan menempuh dua langkah, yaitu langkah ilmiah dan langkah amaliah.
1) Langkah ilmiah adalah dengan cara mengenali diri sendiri dengan kehinaannya, serta mengenali Tuhan dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Pada dasarnya dengan cara ini sudah cukup bagi seseorang untuk menghilangkan sifat takabur pada dirinya.
2) Langkah amaliah adalah merupakan bentuk praktis dalam menanggulangi sifat sombong, yakni tawadhu’ kepada Allah melalui amal perbuatan dan kepada semua makhluk-Nya dengan senantiasa berperilaku sebagaimana lazimnya orang-orang yang suka merendahkan diri.
b. Menangkal faktor penyebab yang menjadikan seseorang berlaku sombong atas orang lain.
Cara yang kedua ini dilakukan dengan cara memotong jalur tujuh sebab sombong, diantaranya:
1) Sombong karena keturunan, cara mengatasinya ada 2 cara;
a) Karena yang dibanggakan orang ini adalah orang lain dan kesempurnaannya, ada yang mengatakan bahwa orang seperti ini dianjurkan supaya berpaling kepada dirinya sendiri.
b) Menyadari bahwa orang tuanya hanya diciptakan dari air mani yang hina. Sedangkan asal mula keberadaan bangsanya adalah tercipta dari tanah.
2) Sombong karena kecantikan atau ketampanan, cara mengatasinya: dengan melihat kepada dirinya sendiri yakni kepada apa yang terkandung di dalam Tuhannya, bahwa hampir segala bagian terdapat kotoran.
3) Sombong karena kekuatan fisiknya, cara mengatasinya: menyadari bahwa dirinya selalu diintai oleh berbagai jenis penyakit dan dihantui oleh cacat.
4) Sombong karena ilmunya, cara mengatasinya: menyadari bahwa kesombongan ini hanya layak untuk Allah dan menyadari bahwa hujah Allah SWT.
5) Sombong karena harta kekayaan, cara mengatasinya: menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki akan dilanda perubahan dan kehancuran.
6) Sombong karena banyak penggemar, cara mengatasinya: Menyadari bahwa semua itu merupakan kebodohan dan kekeliruan.
7) Sombong karena banyak amal dan ibadah, cara mengatasinya: memaksakan diri bersikap tawadhu’ terhadap semua makhluk sambil menyadari bahwa dibalik sifat sombong terpendam bahaya yang besar.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat saya simpulkan bahwa takabur adalah sifat yang sulit dihindari. Namun kita harus menyadari bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan tujuan tidak untuk menyombongkan diri di atas bumi melainkan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Apapun yang kita lakukan di muka bumi ini semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Najati, M. Utsman, al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Bandung: Pusaka, 1985.
Syukur, Amin, Pengantar Agama Islam, Semarang: CV. Bima Sejati, 2006.
Yahya, Imam, bin Hamzah, Kiat Mengendalikan Nafsu, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2001.

Rabu, 16 Mei 2012

ILMU DAKWAH DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU

ILMU DAKWAH DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU
(Suatu Telaah Pada Aspek Ontologi dan Epistemologi)
Maimun Fuadi A. Gani, M.Ag1
ABSTRACT: Epistemologi atau juga disebut filsafat ilmu pengetahuan
kini seolah berdiri sendiri, bahkan cenderung berupa disiplin atau
filsafat yang mandiri, yang kegiatannya membidik dan mengejar field of
study yang baru. Filsafat Ilmu merupakan satu-satunya medium resmi
untuk memperbincangkan ilmu. Bidang Filsafat Ilmu meliputi ontologi,
epistemologi, dan aksiologi. Bidang-bidang ini pada intinya bertujuan
untuk mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh
dapat memahami hakikat, sumber dan tujuan ilmu. Begitu juga adanya
dalam ranah ilmu dakwah Islam, ketiga bidang filsafat ilmu ini perlu
dijadikan landasan filosofis, terutama untuk kepentingan pengukuhan
dan pengembangan ilmu dakwah itu sendiri.
Kata Kunci: Ilmu Dakwah, Filsafat Ilmu, Ontologi dan Epistemologi.
I. Pendahuluan
Membicarakan suatu disiplin ilmu pengetahuan (meliputi
knowledge dan science) kita diberi petuah bahwa semua disiplin dan
segala cabang-cabangnya itu sudah dengan jelas dan memenuhi
segala macam persyaratan untuk disebut sebuah disiplin ilmu
pengetahuan. Dengan demikian, semua disiplin ilmu pengetahuan
1Penulis adalah salah seorang asisten dosen pada Fakultas Dakwah IAIN
Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh bidang ‘Ilmu Dakwah dan Filsafat Ilmu’.
2
sudah tidak ada masalah dengan teropongan epistemologi, yang
menurut bahasa didefinisikan sebagai ‘teori pengetahuan’.2
Epistemologi atau juga disebut filsafat ilmu pengetahuan kini
seolah berdiri sendiri, bahkan cenderung berupa disiplin atau filsafat
yang mandiri, yang kegiatannya membidik dan mengejar field of study
yang baru. Filsafat Ilmu merupakan satu-satunya medium resmi untuk
memperbincangkan ilmu. Bidang Filsafat Ilmu meliputi ontologi,
epistemologi, dan aksiologi. Bidang-bidang ini pada intinya bertujuan
untuk mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh
dapat memahami hakikat, sumber dan tujuan ilmu.3 Ketiga sub bidang
ini biasanya disebutkan secara berurutan dan saling berkaitan, mulai
dari ontologi, epistemologi, kemudian aksiologi.4 Begitu juga adanya
dalam ranah ilmu dakwah Islam, ketiga bidang filsafat ilmu ini perlu
dijadikan landasan filosofis, terutama untuk kepentingan pengukuhan
dan pengembangan ilmu dakwah itu sendiri.
Lepas dari perlu dipertanyakannya, atau setidaknya
diperjelaskannya, anggapan bahwa semua disiplin, atau yang selama
2Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam: Pengantar Filsafat
Pengetahuan Islam, (Jakarta: UI-Press, 2006), hal. 1. Epistemologi atau theory of
knowledge didefinisikan sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat
(nature) dan lingkup pengetahuan, praanggapan-anggapan (presuppositions) dan
dasar-dasarnya serta reliabilitas umum (yang bisa) untuk mengklaim sesuatu sebagai
(ilmu) pengetahun. Lebih jauh, lihat: D.W. Hamlyn, “Epistemology”, dalam
Encyclopaedia of Philosophy, sebagaimana dikutip oleh A. Qodri Azizy,
Pengembangan Ilmu-Ilmu Ke-Islaman, (Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama
Islam Departemen Agama RI, 2003), hal. 3.
3Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), hal.
17-19.
4Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1990), hal. 105.
3
ini dianggap disiplin, sudah memenuhi kriteria filsafat ilmu, pertanyaan
yang muncul dan membuat ketidaktenangan adalah jika epistemologi
itu diarahkan untuk membidik ilmu-ilmu ke-Islaman yang selama ini
sudah dianggap baku: misalnya disiplin atau yang dianggap disiplin
ilmu pengetahuan di IAIN, Perguruan Tinggi Agama Islam, dan juga
pesantren, seperti ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu kalam, tasawuf, nahwu,
ilmu pendidikan Islam, ilmu dakwah, dan seterusnya. Apa atau
bagaimana status ilmu-ilmu tersebut dalam teropong filsafat ilmu? Dan
jika tidak bisa diungkapkan atau dibuktikan epistemologinya, apakah
ilmu-ilmu tersebut sah disebut sebagai ilmu atau disiplin? Inilah di
antara beberapa pertanyaan dari sekian pertanyaan lainnya yang
masih saja diperbincangkan dan diperdebatkan hingga sekarang ini.
Berpijak dari kenyataan dan pertanyaan di atas, lebih jauh
tulisan ini mencoba melihat eksistensi ilmu-ilmu ke-Islaman tersebut
khususnya ilmu dakwah dalam perspektif epistemologi atau filsafat
ilmu.
II. Ilmu Dakwah dalam Sistem Keilmuan Islam
Ilmu-ilmu ke-Islaman mempunyai karakteristik tersendiri, yang
berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, baik dengan ilmu sosial maupun
dengan ilmu eksakta. Sebab ilmu ke-Islaman bertitik tolak dari
pendekatan deduktif-normatif yang bersumber dari wahyu.5 Kemudian
5A. Qodri Azizy, Pengembangan Ilmu-Ilmu Ke-Islaman, (Jakarta:
Departemen Agama RI – Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam, 2003), hal. 12.
4
dikembangkan dengan pendekatan induktif, sehingga memberikan
bobot sebagai disiplin ilmu yang berkarakteristik khusus.
Pada sisi lain, pembidangan ilmu-ilmu ke-Islaman telah lama
dilakukan yang merupakan sistem keilmuan Islam. Secara umum, ilmuilmu
yang berkembang dalam sejarah Islam meliputi ilmu al-Qur’an,
ilmu hadits, ilmu tafsir, bahasa Arab, ilmu kalam atau teologi, fiqih
siyasah atau hukum tata negara, peradilan, tasawuf, tarekat, akhlaq,
sejarah politik, ilmu dakwah, sain Islam, pendidikan Islam, peradaban
Islam, perbandingan agama, kebudayaan Islam, studi bahasa-bahasa
dan sastra-sastra Islam, dan seterusnya. Ilmu-ilmu itu kemudian
berlanjut berkembang dan memiliki cabang masing-masing.6
Berdasarkan pembidangan tersebut, ilmu dakwah Islam
merupakan salah satu disiplin ilmu yang telah mendapat pengakuan
sebagai ilmu yang dapat dan mampu berdiri sendiri berdasarkan
syarat-syarat keilmuan. Kedudukan ilmu dakwah sesungguhnya sama
dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya dalam Islam. Akan tetapi ilmu dakwah
termasuk ilmu yang relatif muda, sehingga terdapat sebagian pihak
yang masih mempersoalkan aspek epistemologinya. Sementara dari
sudut aksiologi, tampaknya sudah demikian kokoh.
Pada perkembangannya, ilmu dakwah telah mempunyai ruang
lingkup atau bingkainya, akan tetapi ilmu ini diperkirakan akan terus
berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan ilmu
6Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, cet. I, (Bandung:
Mizan, 1989), hal. 351. Lihat juga: Abdullah, Wawasan Dakwah: Kajian Epistemologi,
Konsepsi dan Aplikasi Dakwah, (Medan: IAIN Press, 2002), hal. 30-31.
5
pengetahuan, teknologi dan perkembangan masyarakat. Khususnya
pada aspek aksiologi, keberadaan ilmu dakwah cukup dirasakan
urgensinya dan mempunyai kedudukan yang sangat strategis.
Keberadaan dakwah Islam disebut strategis karena pada tahap
operasional, kegiatan dakwahlah yang lebih dominan berperan dalam
sosialisasi dan pelembagaan konsep-konsep Islam di tengah-tengah
masyarakat. Karena itu, tanpa kegiatan dakwah, tentu upaya
pengembangan dan pemasyarakatan sistem keilmuan Islam menjadi
lamban.
Berdasarkan tinjauan aspek aksiologi ini, eksistensi dakwah
Islam adalah tidak perlu diragukan lagi. Tetapi berdasarkan tinjauan
ontologi dan epistemologi masih sangat diperlukan pemikiran dan
penelitian yang dapat memberikan kontribusi untuk pengembangan
keilmuan dakwah sehingga dapat sejajar dengan sistem keilmuan
lainnya.
III. Ilmu Dakwah dalam Perspektif Ontologi
Setiap cabang ilmu yang dihasilkan oleh sebuah epistemologi
tidak akan mencapai status ilmiah yang sah, kecuali status ontologis
objeknya jelas dan diakui. Oleh karena itu, status ontologi objek-objek
ilmu akan sangat berpengaruh sebagai basis bagi klasifikasi ilmu.7
Lebih jauh, dalam persoalan ontologi seseorang menghadapi
persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang
7Mulyadi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi
Islam, (Bandung: Mizan, 2003), hal. 30.
6
ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam
kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran)
dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).8 Jujun S.
Suriasumantri dalam Pengantar Ilmu dalam Perspektif mengatakan,
ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita
ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai
teori tentang ”ada”.9
Berpijak dari pandangan di atas, dapat dipahami bahwa betapa
pentingnya pembicaraan tentang status ontologi dari objek-objek
apapun yang diteliti sebelum berbicara tentang kalsifikasi ilmu ataupun
metodologi ilmiahnya karena diskusi tentang status ontologi objekobjek
ilmu akan bertindak sebagai basis bagi sebuah epistemologi
(teori pengetahuan) manapun.
Oleh karena itu, sebelum menguraikan tentang status objek
daripada ilmu dakwah, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang hakikat
ilmu dakwah itu sendiri. Hal ini penting, karena berbicara hakikat berarti
berbicara tentang status ontologinya. Apalagi hingga saat ini, baik
dikalangan akademisi maupun masyarakat pada umumnya, terkesan
masih belum mamahami (diskursus) ini secara tepat. Dakwah masih
dipahami dalam arti sempit, yaitu sebagai ceramah atau pidato di atas
mimbar. Apalagi secara keilmuan, ilmu dakwah masih diragukan
eksistensinya. Oleh sebab itu, tulisan di bawah ini mencoba
8Amsal Bakhtiar, Filsafat…, hal. 131.
9Jujun S. Suriasumantri, Tentang Hakikat Ilmu, dalam Ilmu dalam
Perspektif, cet. IV, (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 5.
7
meluruskan hal itu dengan memulai memberikan batasan tentang
hakikat dakwah dan ilmu dakwah. Dakwah dan ilmu dakwah perlu
dipahami secara benar, sebab hal itu menjadi landasan dalam
membicarakan dan memahami status ke-ilmunya lebih lanjut.
1. Hakikat dakwah
Kata dakwah menurut bahasa (etimologi) berasal dari bahasa
Arab, yaitu dari kata: da’a – yad’u – da’watan. Kata tersebut
mempunyai makna menyeru, memanggil, mengajak dan melayani.10
Selain itu, perkataan dakwah juga mengandung makna mengundang,
menuntun dan menghasung. Sedangkan menurut terminologi (istilah),
para ahli (ulama) telah memberikan batasan dakwah sesuai dengan
sudut padang mereka masing-masing. Dari sekian banyak defini yang
dikemukakan, tiga definisi berikut ini dianggap dapat mewakili
(representative) dari definisi yang ada.
(a) Syeikh Ali Mahfud mendefinisikan dakwah adalah mendorong
(memotivasi) manusia untuk melakukan kebaikan dan
mengikuti petunjuk dan menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan
mencegah dari perbuatan mungkar agar mereka memperoleh
kebahagiaan dunia dan akhirat.11
(b) Menurut M. Arifin, dakwah mengandung pengertian sebagai
suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk tulisan, tingkah laku
dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana
dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual
maupun secara kelompok agar supaya timbul dalam dirinya
10Mahmud Yunus, Pedoman Dakwah Islamiyah, (Jakarta: Hidakarya Agung,
1980), hal. 127..
11Syeikh Ali Mahfuzh, Hidayat al-Mursyiddin, (Cairo: Dar Al-Kutub Al-
‘Arabiyyah, 1952), hal. 17.
8
suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan erta
pengamalan, terhadap ajaran agama sebagai massage yang
disampaikan kepadanya tanpa ada unsur-unsur paksaan.12
(c) Abdul munir Mulkan, mengemukakan bahwa dakwah adalah
mengubah umat dari suatu situasi kepada situasi lain yang
lebih baik di dalam segala segi kehidupan dengan tujuan
merealisasikan ajaran Islam di dalam kenyataan hidup seharihari,
baik bagi kehidupan seorang pribadi, kehidupan keluarga
maupun masyarakat sebagai suatu keseluruhan tata
kehidupan bersama.13
Tiga definisi di atas telah cukup memberikan pemahaman yang
luas tentang pengertian, unsur, bentuk dan cakupan dakwah.
Pemahaman ini dapat ditegaskan: Pertama, dakwah tidak sama
(identik) dengan tabligh, ceramah dan khutbah. Akan tetapi mencakup
komunikasi dakwah – dengan pesan-pesan agama – melalui lisan (bil
lisan), tulisan (bil kitabah) dan dengan keteladanan dan aksi sosial (bil
hal). Kedua, dalam pelaksanaan dakwah melibatkan sejumlah unsur
sebagai suatu sistem, yaitu da’i, mad’u, pesan yang bersumber pada
al-Qur’an dan Sunnah serta tujuan yang ingin di capai, yaitu untuk
kebahagiaan manusia baik di dunia dan di akhirat. Ketiga, objek
dakwah (mad’u) meliputi individu, keluarga dan masyarakat secara
luas. Keempat, secara implisit definisi di atas juga mengisyaratkan
bahwa dakwah harus diorganisir dan direncanakan dengan baik.
2. Hakikat ilmu dakwah
12M. Arifin, Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1991), hal. 6.
13Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta:
Sipress, 1993), hal. 100.
9
Secara jujur harus diakui bahwa kajian dakwah sebagai suatu
disiplin ilmu, hingga saat ini belum banyak di bicarakan, terutama
menyangkut apa yang dikaji (ontologi)? Bagamana cara
memperolehnya (epistemologi)? Dan untuk apa ilmu itu dipergunakan
(aksiologi)? Hal ini sungguh dapat dipahami, karena latar belakang
lahirnya ilmu dakwah, pada awalnya lebih mempertimbangkan aspek
praktisnya – umat Islam sangat membutuhkan tenaga da’i yang
memiliki kualifikasi akademik, agar kegiatan dakwah Islam mampu
mengantisipasi berbagai problem umat Islam, khususnya di Indonesia.
Kemudian baru muncul pemikiran, bahwa dakwah merupakan
pengetahuan praktis yang berarti tugas budaya dakwah sebagai
keilmuan kebudayaan adalah menyalurkan dan melestarikan nilai-nilai
aspek kebudayaan; dari generasi yang satu kepada generasi
berikutnya, untuk dikembangkan kearah tujuan yang lebih baik dan
sempurna. Maka kemudian timbulah rumusan atau batasan istilah
tentang ilmu dakwah.14
Dari beberapa literatur para pakar telah mencoba merumuskan
tentang definisi ilmu dakwah, antara lain sebagai berikut:
(1) Ilmu dakwah adalah kumpulan pengetahuan yang berasal dari
Allah SWT yang dikembangkan umat Islam dalam susunan
yang sistematis dan terorganisir mengenai manhaj
melaksanakan kewajiban dakwah dengan tujuan berikhtiar
mewujudkan khairul ummah.15
14Samsul Munir Amin, Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam, (Jakarta:
Amzah, 2008), hal. 34.
15Amrullah Ahmad, Sistem Pendidikan Fakultas Dakwah, (Jakarta: Majalah
Media Dakwah, 1994), hal. 38.
10
(2) Ilmu dakwah adalah suatu pengetahuan mengenai alternatifalternatif
dan sarana-sarana yang terbuka bagi terlaksananya
komunikasi mengajak dan memanggil umat manusia kepada
agama Islam, memberikan informasi mengenai amar ma’ruf
nahi mungkar agar dapat tercapai kebahagiaan di dunia dan di
akhirat, dan supaya terlaksananya ketentuan Allah SWT.16
(3) Toha Jahja Omar membedakan ilmu dakwah menjadi dua
macam. Pertama, definisi secara umum, yaitu suatu ilmu
pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntunan-tuntunan,
bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk
menganut, menyetujui dan melaksanakan suatu ideologipendapat-
pekerjaan tertentu. Kedua, ia mendefinisikan ilmu
dakwah menurut Islam, yaitu mengajak manusia dengan cara
bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah
Tuhan, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia
dan di akhirat.17
Berdasarkan pengertian tersebut, kita dapat membedakan
hakikat dakwah dan ilmu dakwah secara jelas. Dakwah keberadaannya
lebih menekankan pada praktek atau operasional, sedangkan ilmu
dakwah adalah membicarakan dakwah dari sudut teoritis (konsep
keilmuan) yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam pelaksanaan dan
pengembangan dakwah.
Dapat ditegaskan bahwa ilmu dakwah adalah ilmu yang
berfungsi mentransformasikan dan menjadikan manhaj (kaifiat) dalam
mewujudkan ajaran Islam menjadi tatanan khairul ummah atau
mentransformasikan dan menjadikan manhaj dalam mewujudkan iman
menjadi amal saleh. Hakikatnya adalah membangun dan
16Ahmad Subandi, Ilmu Dakwah, (Bandung: Syahida, 1994), hal. 46.
17Toha Jahja Omar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Widjaya, 1971), hal. 1.
11
mengembalikan manusia kepada fitrah, meluruskan tujuan manusia,
meneguhkan fungsi manusia sebagai khalifah dan sebagai pengemban
risalah, serta sebagai upaya manisfestasi dari rahmatan lil ’alamin.
Pada sisi lain, sebagai sebuah disiplin keilmuan, ilmu dakwah
terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu, teknologi dan
masyarakat. Ilmu dakwah mempunyai banyak cabang, di antaranya
adalah: filsafat dakwah, sejarah dakwah, fiqhud dakwah, Rijalul
dakwah, metodologi dakwah, manajemen dakwah, psikologi dakwah,
perbandingan dakwah, sosiologi dakwah, dan sebagainya. Cabangcabang
atau struktur dari ilmu dakwah ini tidak akan pernah berhenti.
Ilmu dakwah akan terus berkembang seiring dengan perkembangan
waktu, ilmu dan teknologi.
3. Objek material dan formal ilmu dakwah
Selain mengenai hakikat ilmu dakwah, guna membuktikan
eksistensi ilmu dakwah dalam teropong ontologi ini – paling tidak ada
empat syarat agar suatu disiplin ilmu dipandangan mampu berdiri
sendiri, yaitu bersifat universal, memiliki objek tersediri, dapat
diverifikasi (teruji) dan bersifat pragmatis atau mempunyai nilai guna
bagi kehidupan manusia – sehubungan dengan objek ilmu dakwah
sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana juga dalam ilmu pengetahuan
lainnya pada dasarnya memiliki dua objek kajian, yaitu objek material
dan objek formal.
Sehubungan objek ilmu dakwah ini, Yusny Saby,
mengemukakan: ”Kalaulah ilmu-ilmu itu dapat diklasifikasikan ke dalam
12
matematika, fisika, kimia, astronomi, geologi, biologi dan ilmu-ilmu
sosial, maka ilmu dakwah termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu
sosial”.18 Pendapat ini tidaklah berlebihan jika ditinjau dari
perkembangan pengklasifikasian ilmu pengetahuan sekarang ini, di
mana pada umumnya, para ilmuwan membagi ilmu pengetahuan
dalam tiga bidang, yaitu: (1) Natural Science (ilmu pengetahuan alami);
(2) Social Science (ilmu pengetahuan sosial); dan (3) Humaniora (ilmu
pengetahuan budaya).19 Ilmu-ilmu sosial dinamakan demikian, oleh
karena ilmu-ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan
bersama sebagai objek yang dipelajarinya, atau dengan kata lain yang
menjadi objek material ilmu-ilmu sosial adalah masyarakat manusia
yang selalu berubah-ubah.20
Berpijak dari pandangan di atas, berarti tidaklah berlebihan jika
disebutkan bahwa setiap bidang ilmu-ilmu sosial – termasuk ilmu
dakwah – mempunyai objek material yang sama, yakni manusia.
Sebaliknya masing-masing bidang sasarannya akan berbeda jika
ditinjau dari sisi objek formalnya (sudut pandang). Sebagai ilustrasi
tentang adanya perbedaan objek formal dalam ilmu-ilmu sosial ini,
mungkin dapat diambil contoh berikut. Jika sekiranya yang termasuk
dalam bidang ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu ekonomi yang merumuskan
18Yusny Saby, “Epistemologi Ilmu Dakwah” dalam Ilmu Dakwah Ditinjau
Dari Berbagai Aspeknya, Tim Penulis Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda
Aceh, (Medan: Monora, 2000), hal. 1.
19Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 25-27.
20Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Pers,
1990), hal. 12.
13
teori berkaitan dengan segala kegiatan manusia yang beraspek
pemenuhan kebutuhan materi manusia dalam proses – dari reproduksi
sampai dengan konsumsi, - maka ilmu dakwah yaitu ”ilmu yang ingin
merumuskan serangkaian teori/tata cara tentang seruan yang berkaitan
dengan keyakinan dan sikap seseorang atau sekelompok orang (yang
telah diyakini kebenarannya) kepada orang atau kelompok lain yang
dianggap belum sama persepsi”.21 Dari ilustrasi ini tentu jelas terlihat
terdapatnya kesamaan objek material dari kedua bidang ilmu sosial ini,
yaitu manusia. Namun jika dipandang dari objek formalnya terdapat
perbedaan yang mendasar dari tujuan yang hendak dicapai oleh
masing-masing ilmu tersebut. Objek formal ilmu dakwah merupakan
suatu objek yang dapat membedakannya dari objek kajian dari disiplin
ilmu lainnya. Objek formal ilmu dakwah adalah pengolahan,
penyampaian dan penginternalisasian pesan-pesan keagamaan pada
seluruh perilaku manusia dalam interaksi religius masyarakat di mana
manusia hidup.22 Dengan perkataan lain, objek formal ilmu dakwah itu
adalah proses pengolahan, penyampaian dan penerimaan ajaran Islam
untuk merubah perilaku individu, kelompok dan masyarakat sesuai
dengan ajaran Islam.
Lebih jauh lagi menurut Amrullah Ahmad,23 objek formal ilmu
dakwah adalah mengkaji salah satu sisi objek material, yaitu kegiatan
mengajak umat manusia agar masuk ke jalan Allah SWT (sistem Islam)
21Yusny Saby, “Epistemologi Ilmu Dakwah” dalam Ilmu Dakwah…, hal. 2.
22Ahmad Subandi, Ilmu…, hal. 51-52.
23Amrullah Ahmad, Sistem…, hal. 37.
14
dalam semua segi kehidupan. Bentuk mengajak terdiri dari mengajak
dengan lisan (dakwah bil lisan), dakwah dengan perbuatan,
keteladanan, demonstrasi, dakwah pembangunan dan aksi sosial
(dakwah bil hal), dan mengorganisir serta mengelola kegiatan dakwah
secara efisien dan efektif, juga secara sistematis, singkronisasi dan
integrasi program dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.
Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan waktu, bentukbentuk
dakwah ini yang kemudian tercakup dalam sebuah ruang
lingkup dakwah terus mengalami perkembangan. Dakwah tidak hanya
diartikan secara praktis saja, akan tetapi dalam terminologi modern
dakwah telah dipahami sebagai upaya rekonstruksi masyarakat sesuai
dengan cita-cita sosial Islam. Dalam hal ini, semua bidang dalam
kehiduapan dapat dijadikan arena dakwah dan seluruh kegiatan hidup
manusia bisa dan harus digunakan sebagai sarana dan alat dakwah.
Hal ini tentunya sesuai dengan tuntunan al-Qur’an agar orang beriman
beragama secara kaffah, yaitu tuntutan menjadikan semua bidang
kehidupan untuk pengabdian dan penyerahan diri secara total (tauhid)
kepada Allah SWT.
IV. Ilmu Dakwah dalam Perspektif Epistemologi
Berbicara mengenai status epistemologi tentang ilmu dakwah
pada dasarnya meliputi pembahasan yang berkaitan dengan seluk
beluk pengetahuan ilmu dakwah, mulai dari hakikat dan asal-usul ilmu
dakwah, landasan atau sumber ilmu dakwah, metode membangun ilmu
dakwah, unsur-unsur ilmu dakwah, dan seterusnya. Secara garis
15
besarnya epistemologi ilmu dakwah membahas seluruh aspek yang
terkait dengan pengetahuan ilmu dakwah.
1. Asal usul dan sumber ilmu dakwah
Dalam perspektif epistemologi Islam, khususnya dalam hal
asal usul dan sumber ilmu, tanpaknya ilmu dalam Islam bertentangan
dengan filsafat dan sains modern. Seorang muslim memandang bahwa
ilmu datang dari Allah SWT, dan diperoleh melalui sejumlah saluran;
indera yang sehat, laporan yang benar yang disandarkan pada otoritas
wahyu, akal yang sehat, dan intuisi.24
Secara terinci, Islam mengakui, bahwa sumber atau saluran
ilmu lebih banyak dari sekedar yang diakui oleh Barat. Al-Syaibany,
misalnya mengatakan, bahwa pengalaman langsung, pemerhatian dan
pengamatan indera hanya sebagian dari sumber-sumber tersebut.
Banyak lagi sumber lain dan barang kali yang paling penting dan paling
menonjol adalah; percobaan-percobaan ilmiah yang halus dan teratur;
renungan pikiran dan pemikiran akal, bacaan dan telaah-telaah
terhadap pengalaman-pengalaman orang dulu; perasaan, rasa hati;
bimbingan Illahi. Namun sumber-sumber ini, meskipun banyak dan
jenisnya dapat dikembalikan kepada lima sumber pokok, yaitu indera,
akal, intuisi, ilham dan wahyu. 25 Tiga sumber yang terakhir, yaitu
intuisi, ilham dan wahyu, kedatipun secara tajam bisa dibedakan, tetapi
24Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, terj. Saiful
Muzani, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 34.
25Omar Muhammad al-Taomy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terj.
Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 247.
16
bisa saja intuisi dan ilham secara substansi merupakan ‘wahyu‘ dalam
pengertian yang luas, sebab, baik intuisi maupun ilham merupakan
pemberian dari kekuatan spiritual. Oleh karena itu, A. Yusuf Ali
cenderung meringkas sumber-sumber pengetahuan dalam Islam itu
menjadi tiga saja, yakni, wahyu, rasio dan indera. 26
Jika berpijak dari pendapat di atas, maka dalam kacamata
epistemologi Islam asal usul ilmu –ilmu dakwah– itu berasal dari Allah
SWT., yang kemudian memberi kekuatan dan kemampuan kepada
manusia untuk mengetahuinya melalui beberapa sumber atau saluran,
yaitu melalui wahyu, rasio dan indera.
Sumber pengetahuan ilmu dakwah yang di dapat melalui
wahyu, misalnya dapat diketahui dan ditemukan melalui ayat-ayat al-
Qur’an, seperti dalam surat An Nahlu:125, Ali Imram:104,110, dsb.
Bahkan menurut Muhammad Fuad Abdul Baqi, dalam al-Qur’an katakata
dakwah dan kata-kata yang terbentuk darinya disebutkan tidak
kurang dari 213 kali.27 Suatu sebutan yang tidak sedikit berkaitan
dengan perintah ajakan kepada ajaran Islam, dan tentunya semua ini
menjadi sumber dari landasan pengembangan ilmu dakwah itu sendiri.
Adapun sumber-sumber pengetahuan dakwah yang ditemukan dalam
hadits juga tidak sedikit, yang kesemuanya dapat dijadikan prinsip dan
dapat dirumuskan menjadi dalil-dali aqli (rasio) lebih lanjut sebagai
sumber yang kedua setelah wahyu (al-Qur’an dan hadits)..
26A. Yusuf Ali, The Holy Qur’an: Text, Translation, Commentary, (Leiscerter:
The Islamic Foundation, 1975), hal. 1603.
27Lihat: Muh. Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Qur’an,
(Cairo: Dar Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, t.t), hal. 120.
17
Sehubungan dengan penggunaan akal (rasio) sebagai sumber
kedua keilmuan dakwah, dalam perkembangan sekarang ini para
ilmuan Islam terkadang terhenti dan terjebak dalam suatu dilema ketika
ingin membuktikan eksistensi sebuah ilmu dalam teropong
epistemologi, khususnya ilmu-ilmu ke-Islaman (tak terkecuali ilmu
dakwah). Hal ini tidak lain adalah karena mereka dipengaruhi dan
terjebak oleh perkembangan epistemologi yang berkembang di Barat
yang sedikit banyak berbeda dengan epistemologi dalam pandangan
Islam. Jika di Barat ilmu beranjak dari suatu premis kesanksian, maka
dalam level wahyu, ilmu-ilmu ke-Islaman (seperti juga ilmu dakwah)
bersumber pada premis keyakinan. Jadi ber balikan. Di sini pula
pembicaraan secara akademik sering terhenti, lantaran sudah
terkavling dengan wahyu tadi. Ilmuan Muslim sering terjebak oleh jerat
sendiri bahwa ilmu-ilmu ke-Islaman identik dengan wahyu. Fiqh identik
wahyu, ilmu kalam identik wahyu, tasawuf identik wahyu, ilmu dakwah
identik dengan wahyu, dan seterusnya, sehingga dianggap sedikit
banyak menghilangkan fungsi akal, akibatnya diskusi hanya berlari di
tempat!
Di dalam Islam, munculnya ilmu-ilmu ke-Islaman seperti
adanya ilmu dakwah adalah dalam rangka memahami wahyu untuk
dipraktekkan. Wahyu yang di dalam wujudnya adalah al-Qur’an dan
hadits yang shahih, yang dalam perspektif epistemologi Islam menjadi
sumber utama ilmu-ilmu tersebut. Namun al-Qur’an atau katakanlah
wahyu, sendiri adalah hudan, bukan proposisi, bukan buku undangundang
(not a book of code), bukan teori, bukan hipotesa, bahkan juga
18
bukan asumsi dalam kadarnya yang “ilmiah”, yang berarti bisa diobrakabrik
oleh manusia dengan kedok “ilmiah” pula. Bukankah ciri ilmiah itu
bisa dan sah serta mudah untuk ditolak secara ilmiah pula? Sedangkan
ilmu-ilmu ke-Islaman adalah produk ijtihad para ilmuan
(ulama/mujtahid). Dengan menempatkan pada level yang demikian,
maka ilmu-ilmu ke-Islaman yang kita kenal sekarang ini adalah tidak
identik dengan wahyu, namun sudah menurun pada level hasil ijtihad
(produk akal) manusia. Dengan demikian, selain berbicara tentang
esensi wahyu tadi, maka keberadaan ilmu-ilmu ke-Islaman tersebut
bisa ditempatkan pada posisi yang tidak jauh – kalau tidak dikatakan
sama – dengan ilmu-ilmu umum (sekuler) yang selama ini dikenal,
setidaknya dalam rangka pembidikan epistemologi.
Dengan demikian, walaupun terdapat perbedaan esensial
sebagai konsekuensi dari adanya sumber berupa wahyu Allah SWT,
akan tetapi dalam prakteknya tidak mustahil akan memperoleh hasil
paralel. Demikian pula, kita harus menyadari bahwa wahyu sebagai
dasar tidak berarti kaku dan sempit, namun dapat berarti pembatas,
ketika akal diperankan secara wajar, sesuai dengan ajaran wahyu itu
sendiri. Jadi, nantinya akan terlihat terjadinya keseimbangan antara
deduktif, berdasarkan dalil nash, dan induktif (empirik) berdasarkan
akal dan dalil kauniyah.28 Dengan cara berfikir demikian, ilmu-ilmu ke-
Islaman tersebut maka dapat menjadi kajian ulang secara kritis.
28A. Qodri Azizy, Pengembangan…, hal. 13.
19
Oleh karena asal usul segala ilmu dari Allah, maka manusia
hanya menjadi perumus teori-teori yang diangkat atau dirumuskan
berdasarkan dinullah (wahyu Allah yang tertulis, yang terdapat dalam
al-Qur’an dan al-Sunnah) atau Sunnatullah (hukum Allah yang
diberlakukan pada alam semesta). Ketika merumuskan teori-teori
dakwah berdasarkan dinullah dan sunnatullah itulah mereka
menggunakan akal (penalaran). Di sinilah akal berfungsi melakukan
perenungan, dan hasil yang dicapai tidak mutlak lagi, namun sudah
merupakan hasil ijtihad sebagaimana di jelaskan di atas.
Selain dari akal (rasio) sebagai sumber dari eksistensi ilmu
dakwah, kekuatan indera (empiris) juga merupakan basis yang tak
kalah pentingnya dalam merumuskan teori-teori ilmu dakwah. Melalui
pengalaman empiris dan persepsi, yaitu dengan menggunakan
observasi, eksperimen, laporan sejarah, deskripsi pengalaman
kehidupan dan semacamnya. Pengetahuan yang dicapai melalui indera
selalu di dasarkan pada pengamatan terhadap fakta-fakta dakwah
secara empiris. Benar salahnya pengetahuan juga akan diukur dari
pengamatan terhadap fakta-fakta atau kenyataan yang ada.
Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa eksistensi ilmu
dakwah dalam Islam berdasarkan intelek, yang mengarahkan rasio
untuk membentuk ilmu yang bertumpang pada kesadaran dan
keimanan terhadap kekuasaan Allah. Inilah ilmu yang menjadi petunjuk
20
(hidayah) dari kegelapan menuju terang (nur).29 Suatu ilmu yang
mengemban misi kesejahteraan hidup manusia, dunia maupun akhirat.
Dalam ilmu ini intelek diperankan sebagai media untuk melakukan
terobosan-terobosan pemikiran, penajaman-penajaman gagasan,
perenungan-perenungan tentang fenomena-fenomena dakwah yang
ada – termasuk fenomena unsur-unsur dakwah.. Sedangkan keimanan
diposisikan sebagai pemberi bimbingan dan pengarahan terhadap
arah-arah yang ingin dituju oleh pengembangan intelek. Betapa pun
intelek diberi kesempatan untuk melakukan pengembaraan penalaran
secara maksimal, tetapi dalam batas-batas yang dapat dikontrol oleh
keimanan terhadap kekuasaan Allah, sehingga dapat menghasilkan
ilmu pengetahuan yang memberi kesadaran kepada manusia untuk
mengetahui jati dirinya sendiri, yaitu suatu identitas diri yang tetap
sebagai hamba Allah yang diberikan kepercayaan berkreasi. Dengan
demikian ilmu dakwah, di samping berdasarkan akal dan indera, juga
berdasarkan wahyu, sehingga nilai-nilai religiusnya cukup dominan.
2. Metode Pengembangan Ilmu Dakwah
Metode merupakan bagian integral dari epistemologi. Hal ini
merupakan di antara beberapa syarat dari adanya suatu disiplin ilmu,
sebagaimana pula dengan syarat-syarat lainnya seperti harus memiliki
objek, sumber, landasan, dan seterusnya. Metode berasal dari bahasa
Yunani dari kata methodos, yang berarti cara atau jalan yang harus
29Lihat: A.M. Saefuddin, et.al., Desekularisasi Pemikiran: Landasan
Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1991), hal. 35.
21
ditempuh. Secara terminologi metode diartikan sebagai cara atau
prosedur yang harus ditempuh dalam melaksanakan sesuatu untuk
mencapai tujuan.30 Pada syaratnya, setiap bidang keilmuan
mempunyai metode tersendiri sebagai ciri khusus dari disiplin ilmu
yang bersangkutan. Metode bukanlah dominasi dan hak milik disiplin
ilmu tertentu. Tapi setiap bidang keilmuan mempunyai metode
tersendiri yang sering berbeda dengan metode keilmuan lainnya.
Sehubungan dengan kajian dakwah sebagai sebuah disiplin
ilmu, dalam kajian dakwah dikenal dua metode, yaitu metode keilmuan
dakwah dan metode penyampaian dakwah. Dalam konteks ini yang
akan dipaparkan adalah metode keilmuan dakwah. Hal ini disebabkan
karena metode keilmuan dakwah merupakan sebuah upaya guna
memperoleh pengetahuan tentang (teori-teori) dakwah yang biasanya
berada pada tataran filosofis. Berbeda dengan metode penyampaian
dakwah yang berada pada tataran teknis dan operasional. Metode
keilmuan dakwah berusaha membangun, merumuskan dan
memproses pengetahuan tentang ilmu dakwah.
Mengutip pendapat Amrullah Ahmad kembali, paling tidak
terdapat lima metodologi yang mungkin dapat digunakan dalam
merumuskan dan mengembangkan konsep-konsep dakwah.31 Metodemetode
tersebut ialah:
a. Analisis sistem Dakwah
30Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas,
1983), hal. 99.
31Amrullah Ahmad, Dakwah Islam Sebagai Ilmu, (Medan: Fakultas Dakwah
IAIN Sumatera Utara, 1996), hal. 42.
22
Sistem sering diberi batasan sebagai suatu entitas (system as
an entity), yaitu satu kesatuan. Suatu sistem merupakan kumpulan
unsur yang mungkin berupa benda atau perihal yang membentuk suatu
unit yang satu sama lainnya saling berkaitan dan saling mempengaruhi
dalam menjacapai tujuan.32 Dalam bahasa Arab di sebut dengan
nizham, yaitu keteraturan atau sesuatu yang tersusun secara baik dan
susunannya itu mempunyai uslub atau urutan atau cara tertentu.
Sesungguhnya dakwah adalah suatu sistem, karena dalam kegiatan
dakwah melibatkan beberapa unsur, baik sebagai unsur utama
maupun sebagai unsur pelengkap. Unsur-unsur itu terdiri dari da’i
(subjek), mad’u (objek dakwah), materi, metode, media dan tujuan.
Selain itu sering juga sebagian para ahli memasukkan perencanaan
dan evaluasi sebagai unsur dakwah.
Dakwah sebagai suatu sistem, yang bermakna bahwa unsurunsur
dakwah satu sama lain saling berkaitan dan saling
mempengaruhi dalam pencapaian tujuan. Jadi dalam perumusan dan
pengembangan metode keilmuan dakwah dapat ditempuh dengan
mengadakan analisis unsur-unsur dakwah yang disebutkan di atas.
Untuk keperluan ini, sangat dituntut pemahaman yang komprehensif
dan mendalamm terhadap tiap-tiap unsur dakwah. Dari analisis unsur
tersebut diharapkan dapat dikembangkan metode dakwah.
b. Metode Historis
32M. Syafa’at Habib, Buku Pedoman Dakwah, (Jakarta: Widjaya, 1982), hal.
154.
23
Metode ini adalah mengkaji aplikasi dakwah pada masa lalu,
yaitu dakwah masa Rasulullah Saw, zaman sahabat (khulafaur arrasyidin),
masa Bani Umayyah, Abbasiyah dan zaman-zaman
berikutnya hingga saat ini. Aktivitas dakwah pada kurun waktu, tempat
subjek dan objek dakwah yang berbeda-beda itu sungguh telah
memberikan konstribusi yang amat berharga dalam merumuskan
konsep-konsep dakwah yang lebih antisipatif untuk saat dan dalam
menyongsong masa depan yang lebih kompetitif.
c. Metode Reflektif
Metode ini bertitik tolak dari pandangan ‘dunia tauhid’ sebagai
paradigma ke dalam prinsip epistemologi dakwah. Kegiatan refleksi ini
sekaligus merupakan proses verifikasi atas prinsip-prinsip serta
konsep-konsep dasar dakwah, yaitu apakah dakwah telah benar-benar
merupakan upaya penampakan ‘wajah Tuhan di permukaan bumi’.
Hasil kajian atas fakta dakwah yang dipadukan dengan wawasan
teoritk digeneralisasi dalam rangka mengabstraksikan temuan-temuan
dalam fakta dakwah dalam merumuskan kerangka teoritik tentang
dakwah sesuai dengan spesifikasi dan lingkup objek yang dikaji.
Hasilnya boleh jadi memperkuat wawasan teori yang ada atau merevisi
wawasan teori atau bahkan menggugurkan teori yang ada.
d. Metode Riset Dakwah Partisipatif
Objek kajian dakwah tidak hanya memiliki sifat ‘masa lalu’
tetapi juga bahkan lebih banyak bersifat kekinian dan masa akan
datang. Karena itu, dakwah merupakan fenomena aktual yang
berinteraksi dengan aneka ragam sistem kemasyarakatan, ilmu dan
24
teknologi. Setiap masalah dakwah tidak bisa dikaji secara parsial atau
terpisah dan dinetralisir kajiannya dengan aspek masalah lainnya. Hal
ini karena masalah dakwah bersifat multi dimensi dan selalu
bersentuhan dengan aneka realitas. Untuk itu, kajian kedakwahan
sangat diperlukan pendekatan emperis. Meskipun dalam sejarah
epistemologi Islam pendekatan ini kurang dipraktekkan oleh pakar
Muslim dalam memahami kajian keilmuannya, mereka pada umumnya
lebih menekankan pada pendekaran rasional.
Oleh arena itu, dalam mengembakan ilmu termasuk teori
dakwah yang merupakan prasyarat keberhasilan dakwah, maka dalam
memahami objek kajian ilmu dakwah terasa tidak mungkin tanpa
menggunakan pendekaran emperis. Dengan pendekatan ini
diharapkan akan ditemukan teori, sistem dan metode yang akurat yang
memiliki kemampuan untuk dijadikan alat analisa lapangan (medan),
memotret profil mad’u, menyusun program dakwah, menganalisis
tahapan proses, pencapaian tujuan, memecahkan masalah yang
dihadapi serta mampu mengantisipasi masalah yang komplek.
e. Riset Kecenderungan Gerakan Dakwah
Setelah penelitian atau da’i melakukan generalisasi atas fakta
atau peta dakwah masa lalu dan saat sekarang serta melakukan kritik
terhadap teori-teori dakwah yang ada, maka peneliti dakwah menyusun
analisis kecenderungan masalah, sistem, metode, pola
pengorganisasian dan pengolahan dakwah yang terjadi pada masa
lalu, kini dan kemungkinan di masa mendatang. Dengan riset ini
kegiatan dakwah akan bisa tanpil memandu perjalanan umat dalam
25
pentas global dan selalu dapat memberikan solusi dan melakukan
antisipasi yang lebih dini terhadap problem-problem umat.33
Lebih jauh, instrumen untuk pengembangan metode keilmuan
dakwah adalah melalui penelitian yang serius. Tugas ini tanpaknya
tidak bisa diharapkan dari para da’i, sebab mereka lebih terkonsentrasi
pada aplikasi dakwah. Untuk itu, tugas akbar ini, diperlukan kehadiran
para pemikir dakwah. Dosen Fakultas Dakwah memiliki beban berat
dalam memikul tugas ini. Kalau bukan mereka, lalu siap lagi yang
berkewajiban menemukan dan merumuskan formulasi dakwah yang
lebih antisipatif. Namun dalam pengamatan yang terbatas, tanpaknya
belum banyak yang berminat ke arah itu.
Selaian dari metode-metode epistemologi dakwah di atas, ada
baiknya juga di jadikan sebuah pertimbangan dengan melihat apa yang
ditawarkan oleh Mujamil Qomar dalam bukunya Epistemologi
Pendidikan Islam, ia mengemukakan, bahwa berdasarkan dari
perenungan-perenungan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, hadits Nabi,
pengalaman serta penalaran akal, setidaknya di dapat lima macam
metode yang secara efektif dalam membangun pengetahuan tentang
ilmu-ilmu ke-Islaman, seperti pendidikan Islam, ilmu dakwah, dan
sebagainya. Metode-metode tersebut, yaitu: metode rasional (manhaj
‘aqli), metode intuitif (manhaj zawqi), metode dialogis (manhaj jadali),
metode komparatif (manhaj muqarani), dan metode kritik (manhaj
naqdi). Masing-masing metode ini memiliki cara kerja atau mekanisme
33Amrullah Ahmad, Dakwah…, hal. 42-43.
26
kerja yang berbeda-beda dalam memperoleh pengetahuan tentang
ilmu-ilmu ke-Islaman.34
Dengan demikian, dari beberapa metode yang telah
dipaparkan di atas, paling tidak dalam merumuskan teori-teori ilmu
dakwah ke depan kita sudah mempunyai beberapa pilihan metode
dalam pengembangan keilmuan dakwah sebagai sebuah disiplin ilmu
yang tentunya akan terus berkembang. Metode-metode ini tentunya
juga sangat berguna dalam menyusun, membangun dan
mengembangkan teori-teori baru tentang dakwah Islamiyah yang bisa
jadi sekarang belum terpikirkan.
V. Kesimpulan
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam
perspektif filsafat ilmu, ilmu dakwah ialah ilmu yang ingin merumuskan
serangkaian teori/tata cara tentang seruan yang berkaitan dengan
keyakinan dan sikap seseorang atau sekelompok orang (yang telah
diyakini kebenarannya) kepada orang atau kelompok lain yang
dianggap belum sama persepsi. Hakikatnya adalah membangun dan
mengembalikan manusia kepada fitrah, meluruskan tujuan manusia,
meneguhkan fungsi manusia sebagai khalifah dan sebagai pengemban
risalah, serta sebagai upaya manisfestasi dari rahmatan lil ’alamin.
34Sehubungan dengan penjelasan metode ini sebagai suatu metode
pengembangan ilmu dakwah, lebih jauh dapat dilihat pada: Mujamil Qomar,
Epistemologi Pendidikan Islam (Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik),
(Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 271.
27
Objek material ilmu dakwah pada dasarnya adalah masyarakat
manusia, sedangkan objek formalnya ialah pengolahan, penyampaian
dan penginternalisasian pesan-pesan keagamaan pada seluruh
perilaku manusia dalam interaksi religius masyarakat di mana manusia
hidup. Dengan perkataan lain, objek formal ilmu dakwah itu adalah
proses pengolahan, penyampaian dan penerimaan ajaran Islam untuk
merubah perilaku individu, kelompok dan masyarakat sesuai dengan
ajaran Islam.
Ilmu dakwah dalam perspektif epistemologi pada dasarnya
meliputi pembahasan yang berkaitan dengan seluk beluk pengetahuan
ilmu dakwah, mulai dari hakikat ilmu dakwah, asal-usul ilmu dakwah,
landasan atau sumber ilmu dakwah, metode membangun ilmu dakwah,
unsur-unsur ilmu dakwah, dan seterusnya. Secara garis besarnya
epistemologi ilmu dakwah membahas seluruh aspek yang terkait
dengan pengetahuan ilmu dakwah.
Dalam perspektif filsafat ilmu, metode keilmuan dakwah
merupakan suatu cara atau jalan dalam membangun, merumuskan dan
memproses pengetahuan tentang teori-teori dakwah. Paling tidak
terdapat lima metodologi yang mungkin dapat digunakan dalam
merumuskan dan mengembangkan konsep-konsep dakwah. Metodemetode
tersebut ialah: analisis sistem dakwah, metode historis,
metode reflektif, metode riset dakwah partisipatif, riset kecenderungan
gerakan dakwah. Selain dari metode-metode epistemologi dakwah di
atas, terdapat beberapa metode lainnya yang dapat dijadikan
pengangan dalam pengembangan ilmu dakwah, diantaranya,: metode
28
rasional (manhaj ‘aqli), metode intuitif (manhaj zawqi), metode dialogis
(manhaj jadali), metode komparatif (manhaj muqarani), dan metode
kritik (manhaj naqdi).
VI. Daftar Kepustakaan
Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta:
Sipress, 1993).
Ahmad Subandi, Ilmu Dakwah, (Bandung: Syahida, 1994).
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2006).
Amrullah Ahmad, Dakwah Islam Sebagai Ilmu, (Medan: Fakultas
Dakwah IAIN Sumatera Utara, 1996).
________ , Sistem Pendidikan Fakultas Dakwah, (Jakarta: Majalah
Media Dakwah, 1994).
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008).
Arifin, M., Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1991).
Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-
Ikhlas, 1983).
Harun Nasution, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran, cet. I,
(Bandung: Mizan, 1989).
Abdullah, Wawasan Dakwah: Kajian Epistemologi, Konsepsi dan
Aplikasi Dakwah, (Medan: IAIN Press, 2002).
29
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,
(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990).
________ , Tentang Hakikat Ilmu, dalam Ilmu dalam Perspektif, cet. IV,
(Jakarta: Gramedia, 1985).
Mahmud Yunus, Pedoman Dakwah Islamiyah, (Jakarta: Hidakarya
Agung, 1973).
Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam: Pengantar Filsafat
Pengetahuan Islam, (Jakarta: UI-Press, 2006).
Mulyadi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar
Epistemologi Islam, (Bandung: Mizan, 2003).
Muh. Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Qur’an,
(Cairo: Dar Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, t.t).
Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam (Dari Metode Rasional
Hingga Metode Kritik), (Jakarta: Erlangga, 2005).
Omar Muhammad al-Taomy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam,
terj. Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979).
Saefuddin, A.M., et.al., Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi,
(Bandung: Mizan, 1991).
Samsul Munir Amin, Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam, (Jakarta:
Amzah, 2008).
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali
Pers, 1990).
Syafa’at Habib, M., Buku Pedoman Dakwah, (Jakarta: Widjaya, 1982).
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, terj. Saiful
Muzani, (Bandung: Mizan, 1995).
30
Syeikh Ali Mahfuzh, Hidayat al-Mursyiddin, (Al-Qahirah: Dar al-Kitabah,
1952).
Toha Jahja Omar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Widjaya, 1971).
Qodri Azizy, A., Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman, (Jakarta:
Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen
Agama RI, 2003).
Yusny Saby, “Epistemologi Ilmu Dakwah” dalam Ilmu Dakwah Ditinjau
Dari Berbagai Aspeknya, Tim Penulis Dosen Fakultas
Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, (Medan: Monora,
2000).
Yusuf Ali, A., The Holy Qur’an: Text, Translation, Commentary,
(Leiscerter: The Islamic Foundation, 1975).

PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS


BAHAYA AIDS DAN CARA PENCEGAHANNYA
HIV DAN AIDS
HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia, yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia.
AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah  kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.
BAHAYA AIDS
Oarang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.
GEJALA-GEJALA AIDS
Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit namun terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa. Karena gejala-gejala AIDS tampak setelah + 3 bulan. Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah :
•    Berat badan turun dengan drastis.
•    Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C)
•    Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan paha)yang timbul tanpa sebab.
•    Mencret atau diare yang berkepanjangan.
•    Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit (Kanker kulit atau KAPOSI SARKOM).
•    Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan.
•    Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.
Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS, yang lama-kelamaan akan berakhir dengan kematian.
PENULARAN AIDS
Sebelumnya virus AIDS tidak mudah menular virus influensa. Kita tidak usak terlalu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena AIDS tidak akan menular dengan cara – cara seperti di bawah ini :
•    Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak mengadakan hubungan seksual ).
•    Bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita.
•    Bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS.
•    Makan dan minum.
•    Gigitan nyamuk dan serangga lain.
•    Sama-sama berenang di kolam renang
Hal-hal diatas bukan penyebab menularnya AIDS dapat terjadi melalui cara-cara sbb :
•    melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV
•    Transfusi darah yang mengandung virus HIV
•    Melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah di pakai orang yang mengidap virus AIDS
•    Hubungan pranatal, yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus AIDS kepada janin yang dikandungnya.
KELOMPOK YANG MEMPUNYAI RESIKO TINGGI TERTULAR AIDS
•    Mereka yang sering melakukanhubungan seksual diluar nikah, seperti wanita dan pria tuna susila dan pelanggannya.
•    Mereka yang mempunyai bayak pasangan seksual misalnya : Homo seks ( melakukan hubungan dengan sesama laki-laki ), Biseks ( melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita ), Waria dan mucikari.
•    Penerima transfusi darah
•    Bayi yang dilahirkan dari Ibu yang mengidap virus AIDS.
•    Pecandu narkotika suntikan.
•    Pasangan dari pengidap AIDS
CARA PENCEGAHAN AIDS
•    Hindarkan hubungan seksual diluar nikah. Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain.
•    Pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual.
•    Ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus, hendaknya jangan hamil. Karena akan memindahkan virus AIDS pada janinnya.
•    Kelompok resiko tinggi di anjurkan untuk menjadi donor darah.
•    Penggunaan jarum suntik dan alat lainnya ( akupuntur, tato, tindik ) harus dijamin sterilisasinya.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS, sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan virus AIDS.
USAHA-USAHA YANG DILAKUKAN APABILA TERINFEKSI VIRUS AIDS
Usaha-usaha yang dilakukan terinfeksi virus AIDS disebut juga penerapan strategi pengobatan baru. Dalam pengobatan HIV / AIDS sangat penting mengetahui dinamika HIV, serta perjalanan penyakit ( patogenesis ) sehingga dapat melakukan tindakan dan pengobatan tepat waktu. Beberapa harapan dan kabar baik dapat dicatat dari pertemuan-pertemuan “Van Couver” di Kanada saat ini cukup banyak obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi. Beberapa obat penghambat protease dan obat anti HIV sedang dalam tahap akhir untuk mendapat izin. Selain itu muncul pula pemeriksaan “Viral loard” yang prosesnya lebih mudah dalam mendeteksi RNA dari HIV dalam darah. Dan semua usaha diatas seharusnya di tunjang oleh motivasi dari penderita AIDS itu sendiri. Misalnya bagi mereka yang termasuk kelompok resiko tinggi terkena AIDS selalu memeriksakan darahnya secara teratur, paling sedikit 3-6 bulan sekali, demi keselamatan pasangan seksualnya. Dan yang tidak kalah penting adalah mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Yaitu dengan melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarangNya, agar penderitaan yang dirasakan tidak terlalu berat. Dan bagi masyarakat hendaknya jangan menjauhi mengucilkan mereka yang terinfeksi AIDS, tetapi seharusnya memberi dorongan atau semangat hidup, misalnya melalui nasehat-nasehat yang bisamenumbuhkan rasa percaya diri, sehingga mereka yang telah mengidap virus AIDS tidak putus asa dalam menjalani hidupnya. Dengan adanya usaha-usaha diatas, niscaya masalah AIDS dapat diatasi, paling tidak dapat dicegah sedini mungkin, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak.
MISTERI PENDEMI HIV/AIDS DIDUNIA
WHO melaporkan bahwa sejak pertengahan 1995, jumlah komulatif penderita AIDS sebanyak 20 juta. 18,5 juta orang dewasa dengan separuhnya adalah kaum wanita, dan 1,5 juta adalah anak-anak. 50% dari penderita AIDS adalah kaum remaja /kaum muda dalam kelompok berusia 15-24 tahun. Sejak 1 Januari 1996 WHA melaporkan jumlah penderita AIDS sebanyak 41 juta HIV/AIDS didunia. Dengan 35,4 juta remaja dan dewasa, 15,5 jutawanita, dan 5,6 juta anak-anak. Sedangkan untuk tahun 2000 ini WHO memperkirakan jumlah HIV akan mencapai 30-40 juta dan jumlah AIDS 12-18 juta.
PENDEMI HIV/AIDS REGONAL ASIA TENGGARA
Pendemi HIV/AIDS regonal asia tenggara pada tahun 1994 secara komulatif ditemukan 3745 AIDS, sedangkan sudah diperkirakan lebih dari 2 jura dari 11 negara termasuk Indonesia, dan jumlah tersebut akan menjadi 3,5 juta ditahun 1995.
SITUASI AIDS DI INDONESIA
Penyakit AIDS banyak ditemukan diluar negeri, tetapi karena hubungan dengan bangsa menjadi semakin erat, maka penularannya harus tetap diwaspadai. Banyak orang asing datang ke indonesia dan banyak pula orang indonesia pergi keluar negeri untuk berbagai keperluan. Hal itu membuka kemungkinan terjadinya penularan AIDS. Jumlah HIV/AIDS di Indonesia sampai akhir 1996, terdapat 449 kasus dengan 341 HIV dan 108 AIDS, terdapat di 16 propensi di Indonesia. Wanita yang terkena sebanyak 122 orang, WNI sebanyak 304 orang, Heteroseksual 276 orang, homoseks dan biseks 84 orang, drag user 4 orang, perinatal 1 dan 80 tidak diketahui cara tranmisinya. Menurut golongan umur, diindonesia ternyata yang paling banyak terserang AIDS adalah usia 20-29 tahun yaitu 120 orang, bayi yang berumur kurang dario 1 tahun dan 50 orang belum diketahui umurnya. Dari 108 AIDS yang terbesar di 10 propinsi dan yang meninggal 66 orang, DKI Jakarta terbanyak dengan 57 AIDS dan 35 sudah meninggal.







BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
Tuhan YME. Mempunyai kekuasaan dalam mengatur segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, Dialah yang menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Begitupun dengan segala peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini misalnya : kebahagiaan, kesedihan bencana alam, kelahiran, kematian, dan sebaginya. Muncullah virus HIV/AIDS merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia. HIV adalah suatu virus yang hidup dalam tubuh manusia, dan dan dapat menyebabkan timbulnya AIDS, yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan lam kelamaan akan meninggal, sudah menjadi sifat manusia yang selalu ingin merasakan kenikmanatan tanpa mempedulikan akibatnya, misalnya : melakukan perzinahan, penggunaan narkotika suntikan, dan sebagainya. Kits umat manusia sudah mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan tersebut sangat dilarang,baik menurut ajaran agama masing-masing maupun aturan hukum yang berlaku. Tetapi dari sebagian kita tetap saja melakukan hal-hal tersebut, misalnya : WTS, Homoseks,Biseks, Mucikari, dan orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual diluar nikah. Dan berbahaya, dan sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Adapun gejala-gejala yang dapat kita lihatpada penderita AIDS yaitu demam yang berkepanjangan di sertai keringat malam, batuk dan sariwan yang terus menerus,berat badan turun dengan drastis, dsb, yang akan di akhiri dengan kematian. Oleh karena itu, kita harus menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan AIDS, yaitu melalui pencegahan misalnya :tidak melakukan hubungan seksual secara bebas, menghidarkan penggunaan narkotika suntikan, dan sebagainya. AIDS merupakan cobaan atau bahkan hukuman daru Tuhan,yang tidak pernah di duga oleh umat manusia. Tapi bagaimanapun beratnya cobaan yang diberikan, Tuhan YME. Akan selalu membukakan jalan bagi umatnya. Misalnya : sekarang dicanada telah ada obat anti HIV yang efektif untuk pengobatan kombinasi. Masalah AIDS ini tidak tentu akan menyebar luas, apabila dilakukan pencegahan secara dini, apalagi jika ada partisipasi dari semua pihak.

SARAN
•    Hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berusaha menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa menyebabkan AIDS.
•    Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah (berzinah), dan jangan berganti-ganti pasangan seksual.
•    Apabila  berobat dengan menggunakan alat suntik, maka pastikan dulu apakah alat  suntik itu steril atau tidak.
•    Apabila melakukan tranfusi darah, terlebih  dahulu perikasakan apakah tranfusi darah itu bebas dari virus HIV.
•    Bagi para generasi muda, jauhilah obat-obatan terlarang terutama narkotika melalui alat suntik, alat-alat tato, anting tindik, dan semacamnya yang bisa saja menularkan AIDS, karena alat-alat aeperti itu tidak ada gunanya.dan hindarkan diri dari pergaulan bebas yang bersifat negatif.
•    Apabila ada seminar-seminar, penyuluhan-penyuluhan, iklan ataupun brosur-brosur, yang mengimpormasikan tentang AIDS, sebaiknya kita memperhatikan denganbaik, agar segala sesuatu tentang AIDS dapat diketahui, sehingga kita bisa menghindarkan diri sejak dini dari AIDS.
•    Orang yang mengetahui dirinya telah terinfeksi virus AIDS hendaknya menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual, agar virus AIDS tidak menular pada pasangan seksualnya.

BAB IV
 DAFTAR PUSTAKA
“MISTERI PENDEMI HIV /AIDS” Oleh PAUL F. MATULESSY MD. MN.
BUKU PANDUAN BELAJAR SPK, KURIKULUM 1994 Penerbit.  DEPDIKBUD/DEPKES, tahun 1997
Brosur AIDS, yang diedarkan oleh Exposa bekerjasama dengan DEPKES, tahun 1999

SEJARAH JAMAAH TABLIG

Abstrak

Jamaah Tabligh adalah gerakan transnasional dakwah Islam yang didirikan tahun 1926 oleh Muhammad Ilyas di India. Kelompok Penyampai ini bergerak mulai dari kalangan bawah, kemudian merangkul seluruh masyarakat muslim tanpa memandang tingkatan sosial dan ekonominya dalam mendekatkan diri kepada ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh nabi Muhammad.[4]



Sejarah Tabligh
Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi diIndia. Nama Jama'ah Tabligh hanyalah merupakan sebutan bagi mereka yang sering menyampaikan, sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup Islam saja tidak ada yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama "gerakan iman". Ilham untuk mengabdikan hidupnya total hanya untuk Islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan Ibadah Haji kedua-nya di Hijaz pada tahun1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, ‘Aye Musalmano! Musalman bano’ (dalam bahasa Urdu), yang artinya ‘Wahai umat muslim! Jadilah muslim yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syari’ah seperti yang dicontohkan Rasulullah)’. Tabligh resminya bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya, dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya.
Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia Selatan. Dengan dipimpin oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas sebagai amir/pimpinan yang kedua, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. Sekali terbentuk dalam suatu negara, Jamaah Tablih mulai membaur dengan masyarakat lokal. Meskipun negara barat pertama yang berhasil dijangkau Tabligh adalah Amerika Serikat, tapi fokus utama mereka adalah di Britania Raya, mengacu kepada populasi padat orang Asia Selatan disana yang tiba pada tahun 1960-an dan 1970-an.
Jamaah ini mengklaim mereka tidak menerima donasi dana dari manapun untuk menjalankan aktivitasnya. Biaya operasional Tabligh dibiayai sendiri oleh pengikutnya.
Tahun 1978, Liga Muslim Dunia mensubsidi pembangunan Masjid Tabligh di Dewsbury, Inggris, yang kemudian menjadi markas besar Jama’ah Tabligh di Eropa. Pimpinan mereka disebut Amir atau Zamidaar atau Zumindaar.
Ada yang mengatakan bahwa jamaah tabligh adalah penganut khurafat karna katanya kuburan maulana Ilyas di Nizamudin di tawafkan. Tetapi hal itu hanyalah kebohongan (dari orang-orang yang membenci dakwah) karena sebenarnya disekitar tempat itu ada makam Hindu yang di tawafkan oleh orang-orang Hindu India. Bukan makam Maulana Ilyas.
Usaha ini telah mengubah banyak kalangan mulai dari orang miskin, kaya, pemulung, pejabat, polisi, tentara, bahkan preman dan pembunuh bayaran.
Pengikut dari kalangan selebritis
Banyak terdapat pengikut Tabligh dari kalangan orang-orang penting dan Ternama. Di Kalangan politisi, ada mantan Presiden Pakistan Rafiq Tarar, Menteri kepala Sindh Dr. Arbab Ghulam Rahim, mantan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, dan mantan Jendral Pakistan Javed Nasir secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Tabligh. Di kalangan olahragawan, ada Shahid Afridi, Saqlain Mushtaq, Mushtaq Ahmed, Mohammad Yousuf, Inzamam-ul-Haq dan Saeed Anwar. Penyanyi terkenal seperti Junaid Jamshed dan Abrar-ul-Haq juga aktif dalam gerakan dakwah revolusi Islam ini. Politisi Ijaz-ul-Haq (anak dari Jendral Zia-ul-Haq) have juga terlihat beberapa kali bersama Jamaah Tabligh.
Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personil band Sheila on 7. Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan sangat intensif.
Aktivitas Dakwah
Markas internasional pusat tabligh adalah di Nizzamudin, India. Kemudian setiap negara juga mempunyai markas pusat nasional, dari markas pusat dibagi markas-markas regional/daerah yang dipimpin oleh seorang Shura. Kemudian dibagi lagi menjadi ratusan markas kecil yang disebut Halaqah. Kegiatan di Halaqah adalah musyawarah mingguan, dan sebulan sekali mereka khuruj selama tiga hari. Khuruj adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah, yang biasanya dari masjid ke masjid dan dipimpin oleh seorang Amir. Orang yang khuruj tidak boleh meninggalkan masjid tanpa seizin Amir khuruj. Tapi para karyawan diperbolehkan tetap bekerja, dan langsung mengikuti kegiatan sepulang kerja.
Sewaktu khuruj, kegiatan diisi dengan ta'lim (membaca hadits atau kisah sahabat, biasanya dari kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria), jaulah (mengunjungi rumah-rumah di sekitar masjid tempat khuruj dengan tujuan mengajak kembali pada Islam yang kaffah), bayan, mudzakarah (menghafal) 6 sifat sahabat, karkuzari (memberi laporan harian pada amir), dan musyawarah. Selama masa khuruj, mereka tidur di masjid.
Aktivitas Markas Regional adalah sama, khuruj, namun biasanya hanya menangani khuruj dalam jangka waktu 40 hari atau 4 bulan saja. Selain itu mereka juga mengadakan malam Ijtima' (berkumpul), dimana dalam Ijtima' akan diisi dengan Bayan (ceramah agama) oleh para ulama atau tamu dari luar negeri yang sedang khuruj disana, dan juga ta'lim wa ta'alum.
Setahun sekali, digelar Ijtima' umum di markas nasional pusat, yang biasanya dihadiri oleh puluhan ribu umat muslim dari seluruh pelosok daerah. Bagi umat muslim yang mampu, mereka diharapkan untuk khuruj ke poros markas pusat (India-Pakistan-Bangladesh/IPB) untuk melihat suasana keagamaan yang kuat yang mempertebal iman mereka.
Asas 6 Sifat
1. Yakin terhadap kalimat Thoyyibah Laa ilaaha ilallah Muhammadur rasulullah.
•    Artinya: Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.
Laa ilaaha ilallah
•    Maksudnya: Mengeluarkan keyakinan pada makhluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah di dalam hati.
Cara mendapatkannya:
•    dakwahkan pentingnya iman
•    latihan dengan membentuk halakah iman
•    berdoa kepada Allah agar diberi hakikat iman.
Muhammadar rasulullah
•    Maksudnya: Mengakui bahwa satu-satunya jalan hidup untuk mendapatkan kejayaan dunia dan akhirat hanya dengan mengikuti cara hidup Rasulullah s.a.w.
Cara mendapatkannya:
•    dakwahkan pentingnya sunnah rasulullah
•    latihan dengan menghidupkan sunnah 1x24 jam setiap hari
•    berdoa kepada Allah agar dapat mengikuti sunnah rasulullah.
2. Salat khusyu' dan khudu'.
Artinya: Salat dengan konsentrasi batin dan rendah diri dengan mengikuti cara yang dicontohkan Rasulullah.
Maksudnya: Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah dalam salat kedalam kehidupan sehari-hari.
Cara mendapatkannya:
•    dakwahkan pentingnya salat khusyu' wal khudu'
•    latihan dengan memperbaiki zhahir dan bathinnya salat mulai dari wudhu, ruku', gerakan serta bacaan2 dalam salat
•    berdoa kepada Allah agar diberi hakikat salat khusyu' dan khudu'.
3. Ilmu ma'adz dzikr
•    Ilmu  Artinya: Semua petunjuk yang datang dari Allah melalui Baginda Rasulullah.
•    Dzikir  Artinya: Mengingat Allah sebagaimana Agungnya Allah.
Maksudnya Ilmu ma'adz dzikr: Melaksanakan perintah Allah dalam setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan ke-Agungan Allah mengikuti cara Rasulullah.
4. Ikramul Muslimin
•    Artinya: Memuliakan sesama Muslim.
•    Maksudnya: Menunaikan kewajiban pada sesama muslim tanpa menuntut hak kita ditunaikannya.
Cara mendapatkannya:
•    dakwahkan pentingnya ikramul muslimin
•    latihan dengan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal menghormati yang tua, menghargai yang sesama, menyayangi yang muda.
•    berdoa kepada Allah agar diberi hakikat ikrakul muslimin.
5. Tashihun Niyah Artinya: Membersihkan niat. Maksudnya: Membersihkan niat dalam beramal, semata-mata karena Allah.
Cara mendapatkannya:
•    dakwahkan pentingnya tashihun niyah
•    latihan dengan mengoreksi niat sebelum, saat dan setelah beramal.
•    berdoa kepada Allah agar diberi hakikat tashihun niat.
6. Dakwah dan tabligh
Dakwah Artinya: Mengajak dan Tabligh Artinya: Menyampaikan
Maksudnya:
•    Memperbaiki diri, yaitu menggunakan diri, harta, dan waktu seperti yang diperintahkan Allah.
•    Menghidupkan agama pada diri sendiri dan manusia di seluruh alam dengan menggunakan harta dan diri mereka.
Cara mendapatkannya :
•    dakwahkan pentingnya da'wah wat tabligh.
•    latihan dengan keluar di jalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 hari setiap tahun dan 3 hari setiap bulan. kita tingkatkan pengorbanan dengan keluar 4 bulan setiap tahun, 10 hari setiap bulan dan 8 jam setiap hari.(ulama 1 tahun seumur hidup)